Rabu, 05 Oktober 2016

PEMANGKU ADAT KARANG BAJO BAYAN





PEMANGKU ADAT KARANG BAJO BAYAN

1-Amak Lokak Gantungan Rombong tinggal di rumah yang ada dalam areal Kampu Karang Bajo, Rumah tersebut hanya untuk Pemangku atau pejabat yang sudah diangkat sebagai Amak Lokak Gantungan Rombong. Rumah ini akan menjadi tempat tinggal selama menjabat sabagai pemangku.
Pada setiap pergantian Pemangku atau pejabat adat maka rumah ini direhab atau direnovasi.
Pengangkatan Amak Lokak Gantungan Rombong berdasarkan garis keturunan dan kesepakatan tokoh-tokoh adat Bayan. Sementara Proses pengangkatannya diawali dengan musyawarah (gundem) yang dilaksanakan di berugak Agung yang terletak didalam kampu. Gundem dihadari para tokoh masyarakat adat dari 4 kepembekelan yatu Bayan Barat, Bayan Timur, Loloan dan Karang Bajo. Gundem untuk penentuan Amak Lokak Gantungan Rombong dilakukan 3 kali yaitu pada hari senin, dengan rincian:
Gundem pertama, mencari calon Amaq Lokak Gantungan Rombong
Gundem yang kedua, penetapan calon, dan
Gundem ketiga adalah pengangkatan Amak Lokak Gantungan Rombong
Tugas Amak Lokak Gantungan Rombong selain sebagai penunggu kampu, juga sebagai penyilak atau tuan rumah pada setiap acara ritual adat di kampu Karang Bajo. menampung setiap nazar masyarakat adat dengan media sirih dan pinang dan menjaga kelestarian adat.
Untuk pemangku yang menjabat sebagai Amak Lokak Gantungan Rombong diberikan lahan tanah sawah (pecatu)yang letaknya di Bangket Uban. Hasil dari lahan tersebut adalah sebagai sumber penghasilan dari Amak Lokak Gantungan Rombong. Dalam pengolahan lahan tidak langsung dikelola oleh Pemangku atau pejabat, tetapi yang mengelola adalah keluarga Pemangku yang dibantu oleh masyarakat adat.


2. Kyai Lebe
Kyai Lebe adalah tokoh pemimpin dalam bidang keagamaan yang dibantu oleh Kyai Santri. Kyai Lebe ini memiliki rumah dinas yang letaknya disebelah utara Kampu Karang Bajo. Rumah Kyai Lebe memiliki kampu / pagar tersendiri yang dibangun oleh masyarakat Adat.
Pengangkatan Kyai Lebe diambil dari Kyai Santri yang memiliki kemampuan lebih disbanding Kyai Santri lainnya, berdasarkan persetujuan atau pemilihan oleh para Kyai adat melalui musyawarah besar atau gundem di Berugak Agung. Gundem dilaksanakan sama seperti saat pengangkatan Amak Lokak Gantungan Rombong.
Kyai Lebe bertugas sebagai pemimpin do,a pada setiap ritual Adat keagamaan yang digelar di kampu kampu Karang Bajo atau yang dihelat oleh komunitas secara adat. Selain itu Kiyai Lebe juga sebagai suri tauladan bagi para santrinya, serta memberikan tugas kepada Kyai Santri diwilayahnya masing-masing.
Pada setiap acara yang dipimpin oleh Kyai Lebe akan diberikan imbalan seiklasnya yang disebut dengan “Batun Dupa” dan diberikan lahan tanah sawah atau dalam bahasa adatnya disebut Pecatu yang letaknya juga di Bangket Uban, yaitu disebelah timur Kampu Karang Bajo sebagai sumber penghasilan untuk menghidupi keluarganya.


3. Kyai Santri
Kyai Santri adalah tokoh agama yang tugasnya untuk membantu Kyai Lebe. Kyai Santri ini diangkat berdasarkan garis keturunan yang ditempatkan pada setiap perkampungan atau dusun. Kyai Santri tidak memiliki rumah dinas, mereka tinggal di rumahnya masing-masing.
Pendapatan Kyai Santri ini juga akan diberikan imbalan pada saat dia memimpin setiap ritual Adat atau acara yang digelar oleh komunitas adat, sesuai dengan kemampuan dan keikhlasan dari si empunya hajat. Kyai santri tidak mendapatkan pecatu seperti Kyai Lebe, karena Kyai Santri hanya bertugas sebagai pembantu dari Kyai Lebe.
4. Amak Lokak Penguban
Tempat tinggal Amak Lokak Penguban yaitu di rumah dinas yang letaknya di sebelan barat laut Kampu Karang Bajo. Tempat tinggal untuk setiap pranata ini dibangun oleh Masyarakat adat dan termasuk perbaikannya bila terjadi ada bahan bangunannya yang rusak.
Amak Lokak Penguban juga dipilih berdasarkan garis keturunan (prusa). Pemilihan pranata ini tidak melalui gundem, karena ia diangkat berdasarkan garis turun wali, artinya siapa saja yang mau dan mampu mengemban tugas sebagai Amak Lokak Penguban maka dialah yang akan bertugas dan menghuni rumah dinas yang sudah disiapkan.
Tugas dan fungsi Amak Lokak Penguban adalah sebagai Pembawa Payung Agung pada acara ritual Adat dan sebagai pemimpin dalam penebangan Bambu Tutul pada saat acara Maulid Adat. Untuk menghidupi keluarganya, Amak Lokaq Penguban diberikan mengelola tanah pecatu di Bangket Uban dan tanah matak (lahan kering) di Sinjang Borot Dusun Ancak Timur.
Tetapi karena adanya kepentingan pribadi dari para pejabat pemerintah pada masa lalu sehingga tanah pecatu tersebut menjadi hak milik pribadi saat ini. Amak Lokak Penguban tidak mendapat kontribusi dari tugasnya sebagai Pranata Adat,hanya menjalankan tugas dengan keyakinan untuk melanjutkan tugas dan fungsi dari garis keturunan.
5. Amak Lokak Pande
Amak Lokak Pande tinggal di rumah dinas yang ada di sebelah utara Kampu Karang Bajo atau sebelah barat laut rumah dinas Kyai Lebe. Diangkat sama seperti Amak Lokak Penguban yaitu tidak melalui Gundem tetapi hanya melalui garis keturunan dan kemampuan saja.
Tugas dan fungsi dari Amak Lokak Pande adalah mengatur dan bertanggung jawab atas perkembangan adat dan jalannnya setiap ritual adat. Dari garis keturunan Pande ini akan selalu menjadi pejabat sementara jika terdapat kekosongan dari pranata adat yang tinggal di Kampu Karang Bajo terkecuali Kyai Adat.
Tanah sawah yang menjadi kontribusi untuk Amak Lokak Pande terletak di Bangket Bayan, Desa Bayan, tetapi status kepemilikan berbeda dengan pranata adat lainnya, dimana pada Amak Lokak Pande ini tanah sawahnya bukan milik dari Masyarakat adat umum tetapi milik pribadi dari garis keturunan Amak Lokak Pande yang dinamakan pecatu mider, sehingga yang menggarap atau mengelola tanah sawah tersebut adalah yang menjabat sebagai Amak Lokak Pande.


6. Amak Lokak Singgan Dalem
Rumah dinas Amak Lokak Singgan Dalem ini adalah di sebelah barat Kampu Karang Bajo atau sebelah selatan rumah dinas Pembekel. Pengangkatan Amak Lokak Singgan Dalem ini juga sama seperti Amak Lokak Pande dan Penguban.
Tugas dan fungsinya adalah sebagai penyilak kebeberapa pranata adat yang ada di luar kepembekelan Karang Bajo pada saat ada rirual atau kegiatan adat, seperti pada saat pengangkatan pranata adat, acara maulid adat dan pada saat Gundem di berugak Agung.
Amak Lokak Singgan Dalem ini mendapat kontribusi dari tugasnya yaitu berupa tanah matak (lahan kering yang ada di sebelah utara Dusun Magling,dan di dusun Pelabupati, Desa Karang Bajo. Lahan ini hanya bisa ditanami pada musim hujan.


7. Pembekel Adat
Pembekel adat memiliki rumah dinas di sebelah Barat Kampu Karang Bajo, atau sebelah utara rumah dinas Amak Lokak Singgan Dalem. Pembekel diangkat melalui Gundem juga di Berugak Agung selama tiga kali yaitu pada hari senin. Gundem pertama, untuk mencari calon pembekel, gundem kedua penetapan calon pembekel dan gundem ketiga adalah untuk pengangkatan pembekel.
Tugas dari pembekel hampir sama dengan tugas Kepala Dusun pada sistem kepemerintahan sekarang, yang berbeda adalah pembekel kontribusinya dapat dari pecatu, dan jumlah masyarakatnya tidak terdata serta batas wilayahnya luas. Pembekel hanya mengurus kehidupan masyarakat yang berkaitan dengan hubungan adat. Pecatu atau lahan sawah untuk Pembekel terletak di Koq Abang yang ada di Dusun Sembulan, Desa Bayan. Dari hasil pecatu inilah Pembekel bisa mengidupi atau menafkahi keluarganya.


8. Amak Lokak Walin Gumi
Amak Lokak Walin Gumi adalah pranata Karang Bajo yang memiliki rumah dinas diluar Kampung Karang Bajo, yaitu di Trantapan, Dusun Lokok Aur. Proses pengangkatannya tidak melalui Gundem tetapi hanya dilihat dari garis keturunan atau prusa.
Tugas dan fungsinya adalah sebagai penunggu dari Gubuk Trantapan, penerima aspirasi dari masyarakat yang ada di Trantapan untuk kemudian disampaikan pada pranata Adat yang ada di Karang Bajo yaitu Pembekel.
Amak Lokak Walin Gumi juga memiliki pecatu untuk digarap, yang terletak di Batu Pulek, Dusun Pelabupati. Tetapi karena ada kepentingan pribadi oleh pejabat pemerintah sebelumnya sehingga lahan yang dijadikan sebagai pecatu tersebut sekarang menjadi milik pribadi.


9. Perumbak Daya
Rumah dinas Perumbak Daya ini berada di sebelah hutan Adat Bangket Bayan yang terletak di Desa Bayan. Tempat tinggal dari Perumbak Daya ini sangat sepi, karena jauh dari tempat tinggal penduduk. Proses pengangkatannya dilakukan dengan Gundem di Berugak Agung Kampu Karang Bajo, yang dihadiri oleh tokoh masyarakat dari Bayan Barat, Bayan Timur, dan Loloan. Dalam Gundem tersebut dilaksanakan selama 3 kali pada setiap hari senin, yang cara gundemnya sama dengan pengangkatan Amaq Lokak lainnya.
Tugas Perumbak daya adalah menjaga kelestarian hutan dari tangan orang yang tidak bertanggung jawab, menjaga mata air sebagai sumber penghidupan petani dan untuk kebutuhan rumah tangga. Jika terdapat orang yang menebang kayu di Hutan adat, maka Perumbak Daya yang akan menangkap untuk diserahkan ke Pembekel Karang Bajo yang nantinya disidang melalui Gundem di Berugak Agung.


10. Perumbak Lauk
Perumbak Lauk adalah pranata adat Karang Bajo yang memiliki rumah dinas di Loang Godek, Desa Loloan Kec. Bayan. Tempat tinggal Perumbak Lauk ini tidak sama sepinya dengan tempat tinggal Perumbak Daya, karena berada disebelah perkampungan masyarakat Loang Godek.
Proses pengakatan Perumbak Lauk sama seperti pengangkatan Perumbak Daya dan pranata adat lainnya yaitu melalui Gundem di Berugak Agung yang prosesnya sama dengan pengangkatan pranata adat lainnya.
Perumbak Lauk mengawasi orang-orang yang menangkap ikan dengan cara yang tidak baik seperti dengan menggunakan Bom. Dan bila ada yang ketahuan melakukan pelanggaran di Laut Jawa akan disidang di Berugak Agung untuk diberikan Sanksi Adat.

11. Penjeleng
Penjelang merupakan salah satu pranata Adat yang memiliki rumah dinas di sebelah barat daya rumah dinas Penguban. Tugasnya adalah sebagai pembuat Minyak Blonyo pada saat ritual adat Gawe Alip. Penjeleng memiliki pecatu atau lahan tanah sawah yang terletak di Dusun Pelabupati berupa tanah matak atau lahan kering.

12. Penyunat
Penyunat memiliki rumah dinas yang ada di sebelah timur rumah dinas Kyai Lebe. Tugasnya adalah sebagai pemotong ujung loloq laki-laki pada saat kitan. Penyunat memiliki pecatu atau lahan tanah sawah yang terletak di Dusun Sembulan, Pok Lendong, Desa Bayan.


13. Amak Lokak Dasan Ancak
Amak Lokak Dasan Ancak ini memiliki rumah dinas di Dasan Ancak, Dusun Karang Bajo. Tugasnya adalah menerima aspirasi dari setiap masyarkat adat yang ada di kawasan Dasan Ancak untuk di sampaikan kepada pranata adat yang ada di Kampu Karang Bajo yaitu Pembekel. Amak Lokak Dasan Ancak di angkat tidak melalui Gundem, tetapi hanya melalui garis keturunan saja. Lahan yang digarap adalah lahan tanah matak (lahan kering) yang terletak di Dusun Pelabupati.


14. Amak Lokak Pelabupati

Amak Lokak Pelabupati memiliki rumah dinas diluar Kampung Karang Bajo, yaitu di Dusun Pelabupati. Tugasnya adalah menerima aspirasi dari Masyarakat adat yang ada di Pelabupati untuk disampaikan kepada Pembekel yang ada di Karang Bajo. Proses pengangkatannya juga sama seperti Amak Lokak Lokak Dasan Ancak, tidak melalui Gundem, hanya berdasarkan garis keturunan. Lahan yang dikelola adalah lahan tanak matak yang terletak di Dusun Pelabupati.


Minggu, 07 Februari 2016

PAKAIAN TRADISIONAL SUKU SASAK BAYAN

                                             PAKAIAN TRADISIONAL SUKU SASAK BAYAN


Pakaian tradisional merupakan salah satu identitas suatu daerah yang membedakan prilaku budaya di suatu tempat dengan tempat lainnya. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki pakaian tradisional yang menjadi identitas masing masing daerah dengan keunikannya, demikian pula halnya dengan masarakat suku sasak yang ada wilayah Bayan Kabupaten Lombok Utara,Provensi Nusa Tenggara Barat .Pakaian khas masyarakat tradisional Bayan Kabupaten Lombok Utara disebut dengan nama Tenun Bayan yaitu kain tenun hasih buah karya masyakat setempat yang disebut kain sesekan. Tenun Bayan ini terdiri dari beberapa jenis kain sesekan/tenun,antara lain sebagai berikut:
1-Londong Abang yaitu kain tenun dengan warna dasar merah muda dengan ornament garis berwarna hitam dan kuning. Kain jenis ini biasa dipakai oleh Kiayai Adat Bayan dan wanita-wanita Bayan yang berasal dari golongan bangsawan dan keturunan Kiyai Adat Bayan.
2-Kereng Pisak adalah kain tenun yang dibuat dengan bahan dasar bernang berwarna putih dengan ornament hiasa berupa garis lurus yang dibuat dari benang berwarna putih keabu-abuan. Kain ini biasanya digunakan oleh golongan Kiyai Pengulu, Kiyai Lebe, Kiyai Ketib dan Kiyai Mudim.
3-Rejasa yaitu kain panjang yang ditenun khusus untuk para Kiyai dengan warna dasar merah kecoklat-coklatan dengan ornament garis berwarna putih abu-abu. Rejasa biasa digunakan sebagai ikat pinggang oleh pranata adat Bayan, baik laki-laki ataupun perempuan.
4-Sapuk yaitu kain berwarna putih dan kain yang dibuat dengan berbagai bentuk ornament hiasa batik khas Lombok. Sapuk berwarna putih khusus digunakan oleh Kiyai Adat sedangkan Sapuk yang bercorak batik digunakan sebagai ikat kepala oleh seluruh warga Bayan dan umumnya digunakan oleh seluruh masyarakat Lombok pada saat pelaksanaan tradisi-tradisi adat sasak Bayan.
5-Jong yaitu kain tenun yang dibuat berupa sebuah topi panjang. Jong merupakan topi panjang yang terbuat dari ahan dasar benang tenun berwarna merah dengan ragam hias berbebentuk belah ketupat berwarna putih, kuning, dan hijau. Jong merupakan pakaian penutup kepala yang khusus dipakai oleh paranata adat wanita Bayan yang biasanya berasal dari golongan bangsawan dan golongan kiyai. Jong biasanya digunakan pada saat dilaksanakannya tradisi Maulid Adat dan Lebaran Adat pada masyarakat Bayan.
6-Sampur Rujak Belimbing yaitu kain tenun berupa selendang yang terbuat dari bahan benang dengan warna dasar kuning dengan ornament garis hias berwarna merah muda, ping dan merah kecoklat-coklatan. Sampur Rujak Belimbing ini biasa digunakan oleh wanita Bayan yang berasal dari golongan bangsawan dan keturunan golongan kiyai. Kain selendang ini biasanya digunakan pada saat dilaksanakannya tradisi Maulid Adat dan Lebaran Adat pada masyarakat Bayan dan pelaksanaan Gawe Adat Gama.
7-Lipaq adalah kain tenun yang dibuat dengan warna dasar jingga/ping tanpa ada garis hias sebagai ornamennya dan adapula yang dibuat dengan warna dasar kuning tanpa ornament hiasa. Lipaq difungsikan sebagai selendang oleh pranata adat wanita Bayan, terutama pada saat dilaksanakannya tradisi-tradisi adat Bayan.
8-Kombong Abang adalah kain tenun yang dibuat dari bahan dasar benang berwarna merah muda dengan ornament hiasa garis lurus yang terbuat dari benang berwarna abu-abu dan merah kecoklat-coklatan. Masyarakat Bayan biasa menggunakan Kombong Abang sebagai kelengkapan pakaian tradisionalnya, yaitu digunakan sebagai ikat pinggang.
9-Poleng Ragi Dayu adalah kain tenun yang dibuat dari benang berwarna dasar kuning dengan ornament hiasa berbentuk kotak-kotak berwarna kelabu, merah muda, kuning kehijau-hijauan dan merah kehitam-hitaman. Jenis kain ini bisa dipakai oleh siapapun.
10-Songket Poleng adalah kain songket yang dibuat dengan benang tenun berwarna dasar merah muda dengan ornament hiasa berupa kotak-kotak berwarna merah kehitam-hitaman dan dalam beberapa kotak terdapat ragam hias berbentuk punden berundak lima yang terbuat dari benang berwana putih. Jenis kain ini bisa dipakai oleh siapapun.
11-Ragi Rajek adalah kain tenun yang dibuat dari benang dengan warna dasar merah kehitam-hitaman dengan ornament hias berupa garis lurus yang terbuat dari benang berwarna biru, putih, dan merah muda yang membentuk kotak-kotak. Jenis kain ini bisa dipakai oleh siapapun.
12-Kesial Kuning adalah kain tenun yang dibuat dengan benang berwarna dasar kuning dengan ragam hiasa garis lurus membentuk kotak-kotak berwarna ungu dan piolet. Jenis kain ini bisa dipakai oleh siapapun.
13-Rujak Berune adalah kain tenun yang terbuat dari benang berwarna dasar merah maron dengan ragam hias berupa garis lurus berwarna putih. Jenis kain ini bisa dipakai oleh siapapun.


Inilah gambaran singkat dari beberapa jenis kain tenun yang dijadikan sebagai pakaian tradisional oleh masyarakat Suku Sasak Bayan dalam kehidupan social budayanya.Pakaian tradisional Bayan masih tetap digunakan hingga sekarang,terutama pada saat pelaksanaan tradisi-tradisi adat dan Gawe Adat Gama.Untuk pakaian adat kaum perempuan Bayan digunakan adalah Jong sebagai penutup kepala, Londong Abang sebagai kain, Rejasa sebagai ikat pinggang dan Sampur Rujak Belimbing sebagai selendang-nya.


Sedangkan Pakaian adat Bayan untuk kaum pria menggunakan Sapuk sebagai ikat kepala, Londong Abang sebagai kain, Rejasa sebagai ikat pinggangnya dan Kombong Abang sebagai selendangnya. Khusus untuk Kiyai Kagungan, mereka menggunakan Sapuk Putek sebagai ikat kepala, Kereng Pisak sebagai kain, Rejasa sebagai ikat pinggang dan Kombong Abang sebagai selendangnya.
Komonitas Penenun Bayan sampai sekarang masih tetap aktif memperoduksi kain tenun Bayan yang terdiri dari beberapa jenis kain untuk kepentingan masyarakat dan untuk tujuan komersil.


Selasa, 26 Januari 2016

BUDAYA BAYAN DI TENGAH ARUS MODERNESASI

                        
                                

                                      BUDAYA BAYAN DI TENGAH ARUS MODRNESASI





Suku Sasak Bayan merupakan salah satu kelompok masyarakat yang di tengah arus modernisasi tetap memegang teguh prinsip hidupnya. Bukan berarti menolak pembaruan, mereka hidup berdampingan dengan pembaruan. Desa Bayan terletak di Kabupaten Lombok Utara Nusa Tenggara Barat,Banyak hal tentang kearifan masyarakat Bayan yang masih dipertahankan keberadaannya sampai saat ini.Suku Bayan memegang teguh ajaran leluhur mereka yang disebut "metu telu", yaitu segala sesuatu keluar dari tiga hal ,yaitu fenomena alam terjadi dengan beranak,bertelur dan tumbuh,Sumber kehidupan di dunia berasal dari yang tiga tersebut, yang melahirkan (seperti manusia), yang bertelur (seperti unggas), dan yang tumbuh (seperti tanaman). "Selain itu sebagai manusia kita juga berasal dari tiga, yaitu Ibu, Bapak dan Tuhan,dan ada tiga fase kehidupan yang dilalui manusia yaitu lahir,mati,dan hidup di akhirat.


Masyarakat Bayan juga memaknai hidup. Setiap tahap kehidupan diupacarakan, dari saat bayi lahir, berusia 8 hari, lalu khitanan, menikah, hingga 1000 hari setelah wafat. Kelestarian alam juga dipelihara betul. Sebelum musim tanam, masyarakat akan bersama-sama membersihkan saluran air, lalu mengadakan upacara adat di mata air yang terdapat di hutan adat. Ketika akan menanam benih, ketika musim panen tiba semua diadakan upacara adat yang sarat makna. Penebangan pohon tidak boleh dilakukan. Jika kedapatan menebang pohon, akan didenda satu ekor kerbau.Banyak yang menyangka metu telu adalah suatu ajaran agama. Metu Telu ini bukan agama, melainkan adat. Adat dan agama tidak boleh bertentangan. Tata tertib itulah adat." Mereka mngusung adat tanpa meninggalkan ajaran agama Islam yang mereka anut. Perayaan adat yang besar yang sejalan dengan ajaran agama antara lain saat idul fitri dan saat Maulid Nabi Muhammad. Tetapi setiap perayaan tidak akan memberatkan warga, karena masyarakat saling membantu. Saling mengirimkan kebutuhan untuk memasak dan mengerjakan semuanya bersama-sama.Dulu Kerajaan Bayan dipimpin oleh seorang wanita dengan pusat pemerintahan di Bayan Agung, Bayan Beleq .Pedaleman Bayan merupakan satu komplek yang berisi beberapa bangunan berugak (bale-bale/gazebo) dan bangunan untuk menyimpan pusaka. Komplek ini dipagari dengan anyaman bambu, bangunan beratapkan alang-alang dan terbuat dari kayu yang dibangun tanpa paku. Dalam komplek pedaleman, terdapat empat buah beruga yang memiliki fungsi sendiri-sendiri. Salah satunya adalah Berugak Agung yang berfungsi sebangai tempat musyawarah atau disebut gundem, yang mencirikan sikap kebersamaan suku Bayan. Selain itu setiap rumah wajib memiliki berugak untuk menjamu tamu.


Mesjid Kuno bayan terletak di atas bukit tak jauh dari wilayah kampu pedaleman Bayan . Mesjid ini diperkirakan sudah ada sejak 300 tahun sebelum masehi. Mesjid ini pun sangat sederhana, berlantai tanah, beratap bambu dan alang-alang dan berdinding anyaman kayu. Mesjid hanya dibuka untuk upacara peringatan adat tertentu.Terlepas dari segala tradisi yang kental dan dipegang teguh, mereka tidak menolak pembaruan. Mereka hidup modern dan tidak menutup diri. Sebagian masyarakat masih bekerja mencocok tanam, tetapi ada pula yang menjadi pegawai negri sipil dan guru.Dari kearifan dan keserhanaan prinsip hidup masyarakat setempat. Manusia dan alam hidup berdampingan dengan damai. Masyarakat tidak menolak pembaruan, tanpa melupakan leluhur dan asal-usul kehidupan mereka.

Minggu, 24 Januari 2016

KAIN TENUN BAYAN LOMBOK UTARA

                                    

                                              KAIN TENUN BAYAN LOMBOK UTARA



Kain tenun juga dapat dijadikan tolak ukur keberagaman masyarakat yang mendiami pulau seribu masjid ini. Beragam corak kain tenun dibuat oleh komunitas penenun di Bayan misalnya, seperti songket, ikat dan londong abang (kain merah) menggambarkan adanya keaneka ragaman lapisan dan golongan masyarakat yang tinggal di Bayan, Kecamatan Bayan, Lombok Utara.
Di komunitas adat Bayan, kain tenun dengan corak tertentu wajib dimiliki oleh warga masyarakat adat, karena biasanya kain tenunan seperti Londong abang, digunakan ketika menghadiri acara ritual adat seperti maulidan, lebaran dan ngaji makam.
Membuat kain tenun cukuplah rumit dan sulit. Semua proses pembuatannya menggunakan peralatan kayu dan bambu yang dioperasikan secara manual atau dengan tangan. Waktu pengerjaannya bisa sampai dua minggu. Dalam proses ini walau mungkin sama dengan yang terdapat di tempat-tempat lain, namun yang membedakan antara tenunan Bayan dengan tenunan luar Bayan adalah setiap corak yang dibuat menggambarkan pemakainya berasal dari gubuq atau kampung tertentu di Kecamatan Bayan.


Tenunan Bayan dibuat bukan hanya memperhatikan coraknya saja, akan tetapi kekontrasan warna juga disesuaikan dengan warna kulit pemakainya. Untuk mendapatkan kain tenun Bayan sebaiknya memesan terlebih dahulu. Penenun biasanya mencocokkan corak maupun kekontrasan warnanya dengan keinginan si pemesan. Pemesan kain tenun dijamin puas akan hasil pesanan lainnya ini.
“ Selain corak, cara memakai pakaian adat komunitas Bayan juga bisa dikatakan unik, karena lengkap dengan kombinasi kain yang harus digunakan mulai dari Jong (penutup kepala), Lipaq (Kemben penutup dada), Poleng (kain yang dipaki paling bawah), dan yang terakhir Sampur yang berguna sebagai penutup lengan kiri, kesuluran pakain adat ini mulai dari Jong hingga yang terakhir Sapur digunkan khusus untuk kaum perempuan.



“ Sedangkan khusus untuk laki-laki yang pertama yakni Sapuk (pengikat kepala), kemudian yang kedua Dodot Rejasa (kain yang digunakan sebagai penutup lengan kiri) biasanya kainnya berwarna hitam dengan corak putih, serta yang terakhir adalah Londong Abang (yang digunakan sebagai kain paling bawah). Semua warna dan corak kain yang digunakan memilki makna sesuai dengan ritual adat yang sedang di ikuti atau berlangsung. Satu contoh ketika ritual adat yang di ikuti adalah ritual adat gawe Urip (gawe hidup) biasanya menggunakan corak yang berwarna-warni (poleng), sedangkan untuk ritual adat gawe Pati (gawe mati) biasanya menggunakan warna merah atau abang yang dikombinasikan dengan warna hitam dan biasanya disebut Londong Abang dan Rejasa.
Tapi yang paling penting disini adalah Jong Bayan yang digunakan sebagai penutup kepala, karena merupakan ciri khas cara berpakaian masyarakat komunitas adat Bayan sekaligus sebagai ikon yang secara langsung mewakili makna dari seluruh pakaian adat yang digunanakan ketika melakukan ritual adat.


Terkait soal prospek kedepan yang dapat diandalkan dari kain tenun komunitas adat Bayan khusunya untuk menjadi salah satu asset KLU memang memiliki potensi yang sangat baik untuk dikembangkan terlebih jika di kombinasikan dengan keberadaan obyek wisata yang ada di kawasan tersebut, seperti Air terjun, rumah tradisonal (adat) hingga taman wisata Gunung Rinjani

Jumat, 22 Januari 2016

TINJAUAN SINGKAT TENTANG "WETU TELU" DI LOMBOK UTARA

                TINJAUAN SINGKAT TENTANG "METU TELU" DI LOMBOK UTARA


Dalam arti bahasanya "Wetu Telu" berarti tiga sistem reproduksi, dengan asumsi kata Wetu berasal dari kata Metu yang berarti muncul atau datang dari, sedangkan Telu berarti tiga. Secara simbolis hal ini mengungkapkan bahwa semua makhluk hidup muncul (metu) melalui tiga macam sistem reproduksi.

Tiga macam sistem reproduksi itu adalah

a.Menganak (melahirkan), seperti manusia dan mamalia yang berdaun telinga.

b.Menteluk (bertelur), seperti burung, unggas dan lain-lain.

c.Berkembang biak dari benih atau buah (mentiuk)seperti biji-bijian, sayuran, buah- buahan, pepohonan dan tumbuh-tumbuhan lainnya.



Fokus pemahaman kita  tidak hanya terbatas pada tiga sistem reproduksi saja, melainkan juga menunjukkan pada kemahakuasaan Tuhan yang memungkinkan makhluk hidup untuk hidup dan berkembang biak melalui mekanisme tersebut. Kedua, persepsi yang mengatakan bahwa Wetu Telu melambangkan ketergantungan makhluk hidup satu sama lain. Menurut konsepsi ini, wilayah kosmologis itu terbagi menjadi jagad kecil( buana alit ) dan jagad besar ( buana agung ). Jagad Besar/Buana Agung disebut alam raya atau mayapada yang terdiri atas dunia, matahari, bulan, bintang dan planet lain, sedangkan manusia dan makhluk lainnya merupakan jagad kecil yang selaku makhluk sepenuhnya tergantung pada alam semesta. Ketiga, konsepsi yang menyatakan bahwa Wetu Telu sebagai sebuah sistem yang termanifestasi dalam kepercayaan bahwa semua makhluk melewati tiga tahap rangkaian siklus yaitu

a- dilahirkan (menganak),

b-hidup (urip)

c-mati (mate).

Kegiatan ritual sangat terfokus pada rangkaian siklus ini. Setiap tahap, yang selalu diiringi upacara, merepresentasikan transisi dan transformasi status seseorang menuju status selanjutnya juga mencerminkan kewajiban seseorang terhadap dunia roh.



Adapun di dalam keseimbangan dan keselarasan alam.ada tiga mekanisme yang yang sangat erat berhubungan antara satu dan yang lainnya,hubungan yang tidak boleh dipisahkan dalam kehidupan manusia yaitu :

a-Hubungan manusia dengan Tuhan.

b-Hubungan manusia dan manusia.

c-Hubungan manusia dan alam.

Hubungan manusia dan Tuhan adalah sebuah postulat yang tak bisa dipisahkan,manusia sebagai ciptaan Al Khaliq wajib menjalankan perintahnya sesuai dengan ajaran agama,hubungan manusia dan manusia dalam intraksi sosialnya harus menciptakan kerukunan,kedamaian dan keharmonisan,sedangkan hubungan manusia dan alam,membentuk manusia yang cinta kepada alam sebagai anugrah Tuhan yang harus kita jaga dan lestarikan.



Di tinjau dari proses kejadian manusia ada tiga hal pokok yang menjadikan sebab terjadinya manusia yaitu :

a-Adanya Ibu.

b-Adanya Bapak/Ayah

c.Adanya Tuhan

Dalam kejadian manusia ketiga hal tersebut merupakan hal pokok,yaitu nikahnya ibu dan bapak kita.akan menjadikan proses kejadian dalam kandungan ibu kita .dan dengan qudrat iradat Tuhan,maka terjadilah manusia.

Dengan melihat hal tersebut di atas ,maka Wetu Telu/Metu Telu adalah sebuah pemahaman tentang realita kehidupan yang Metu/Keluar dari tiga hal seperti yang disebut di atas.Semoga dengan ulasan singkat tentang Wetu Telu/Metu Telu dapat bermamfaat bagi kita.

SEKILAS TENTANG SEJARAH BAYAN LOMBOK UTARA

                                    

                          SEKILAS TENTANG SEJARAH BAYAN LOMBOK UTARA




Bayan merupakan kecamatan yang terletak di Kabupaten Lombok Utara yang masyarakatnya masih tetap memegang teguh tradisi ,adat ,budayanya sebagai warisan dari leluhurnya,terbukti hingga sampai saat ini komunitas yang tinggal di Bayan masih tetap memegang dan mempraktekkan kegiatan tradisi,adat-istiadat dan nilai-nilai budayanya tetap dijunjung tinggi oleh masyarakatnya, termasuk hukum adat yang mengatur dan mengikat secara keseluruhan komunitas adat Bayan. Hukum adat juga mengatur hubungan antar masyarakat dengan masyarakat, masyarakat dengan alam lingkungannya, dan masyarakat dengan Tuhannya.yang merupakan tiga pondasi pokok keseimbangan dan keselarasan jasmani dan rohani.


Ditinjau dari sistem kekuasaan,pengemban utama dalam pelaksanaan adat-istiadat yang ada di Komonitas Bayan Kabupaten Lombok Utara,yatu dapat dilihat dari pelaksanaan gundem (musywarah adat), seperti pengangkatan Mak Lokak Perumbak Daya yang memiliki tugas dan fungsi menjaga hutan adat, selalu diawali dengan komunikasi para pemangku adat, yang kemudian dilanjutkan dengan pertemuan para pejabat adat (tetua adat) lainnya yang berasal dari Desa Bayan, Desa Karang Bajo dan Desa Loloan, serta diiukti oleh para prusa atau tokoh adat lainnya.


Babad Bayan menyebutkan, bahwa Bayan pernah dipimpin oleh seorang raja  “Datu Bayan”. Datu Bayan ini bergelar Susuhunan Ratu Mas Bayan Agung, yang dalam silsilahnya datu tersebut bersaudara 18 orang dari hasil perkawinannya dengan beberapa permaisuri dan selir. Saudara Datu Bayan ini menyebar ke seluruh Pulau Lombok. Sejarah juga mencatat, dari hasil perkawinan pertama Datu Bayan, dia memperoleh dua orang putra yang bergelar Pangeran Mas Mutering Langit dan Pangeran Mas Metering Jadad. Dan kedua pangeran inilah yang melanjutkan kepemimpinan kejarajaan Bayan.


Datu Pangeran Mas Mutering Langit sebagai saudara tertua berkedudukan di Bayan Timur dengan tugas menjalankan adat gama, yaitu sebuah lembaga adat yang mengatur hubungan vertikal dengan sang pencipta Allah SWT. Sementara Datu Pangeran Mas Mutering Jagad berkedudukan di Bayan Barat, yang bertugas menjalankan adat Luir Gama yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan, lingkungan dan adat-istiadat lainnya.
Kedua Datu Bayan tersebut dalam menjalnkan tugasnya dibantu oleh keluarga kerajaan, antara lain: Titi Mas Rempung yang tinggal di Desa Loloan, Titi Mas Puncan Surya yang tinggal di Desa Karang Bajo, dan Titi Mas Pakel yang tinggal di Karang Salah. Sedangkan dalam menjalankan tugas dibidang keagamaan dibantu oleh Titi Mas Pengulu, Mudim, Ketip dan Lebe Antassalam.


Kata “Bayan” berasal dari bahasa Arab yang berarti penerangan atau penjelasan. Nama ini dikenal setelah Islam masuk ke Bayan sekitar abad ke 16, yang dibawa oleh para ulama dan pedagang yang singgah di Pelabuhan Carik. Labuhan Carik sendiri kala itu adalah pelabuhan yang cukup strategis, karena tempat persinggahan para pedagang yang datang dari pulau Jawa, Sulawesi dan pulau Sumbawa. Dan pelabuhan itu sendiri sebagai bagian wilayah yang dikelola Kerjaan Bayan. Dan untuk menjaga Pelabuhan Carik diangkatlah Mak Lokak Sahbandar yang diberi tugas khusus mengelola Pelabuhan Carik.


Kerajaan Bayan terbentang sepanjang pantai utara Pulau Lombok dengan batas kerajaan Bayan saat itu adalah sebelah timur: Tal Baluk (berbatasan dengan Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur-sekarang), sebelah barat berbatasan dengan Menanga Reduh yang berada di Desa Melaka Kecamatan Pemenang, sementara sebelah utara: laut lepas dan sebelah selatan Gunung Rinjani.

MENIKMATI IKAN BAKAR DI PANTAI NIPAH LOMBOK UTARA


                                  MENIKMATI IKAN BAKAR DI PANTAI NIPAH LOMBOK UTARA                                    


Pantai Nipah tak terlalu jauh dari Pantai Senggigi, hanya sekitar 20 menit perjalanan. Pantai yang berada di Desa Malaka, Kecamatan Pemenang,abupaten Lombok Utara,Nusa Tenggara Barat, ini masih satu garis pantai dengan Pantai Malimbu dan Pantai Pandanan. Jarak masing-masing pantai ini juga cukup dekat, hanya sekitar 5-10 menit perjalanan. Meski belum terlalu booming, namun akses menuju Pantai Nipah sudah cukup baik, walaupun dengan kontur jalan yang berkelok dan bertebing curam. Jalanan aspal yang mulus serta angkutan umum banyak dijumpai untuk menuju ke sini. Di sepanjang perjalanan, pemandangan bukit yang hijau menjadi teman anda untuk menuju Pantai Nipah.

Pantai Nipah juga cukup mudah ditemukan. Selain lokainya yang berada di pinggir jalan utama, terdapat papan nama bertuliskan “Pantai Nipah” di sisi kiri jalan. Dengan mengikuti arah papan tersebut, anda bisa sampai ke Pantai Nipah yang memiliki karakteristik hampir sama dengan Pantai Malimbu. Deretan perahu nelayan akan menyapa anda begitu anda tiba di pantai yang oleh masyarakat sekitar disebut dengan nama Teluk Nipah ini. Deretan bukit yang bernama sama nampak mengelilingi Pantai Nipah semakin mempercantik keindahan pantai ini. Dari atas bukit ini, anda bisa menikmati pemandangan Pantai Nipah secara keseluruhan sekaligus menjadi salah satu spot terbaik untuk mendapatkan gambar matahari terbenam. Jadi anda yang menyukai landscape photograph, wajib datang ke Pantai Nipah.

Pantai Nipah memiliki ombak yang tak terlalu besar sehingga cukup aman bagi anda untuk berenang di sana. Air pantai ini juga cukup jernih bagaikan cermin, sehingga anda bisa memandangi dasarnya dengan mata telanjang. Kejernihan airnya berpadu dengan gradiasi warna airnya yang berwarna biru dan hijau keputihan. Di sore hari, warna jingga matahari akan terpantul di atasnya yang semakin menambah warna-warni Pantai Nipah. Karang-karang kecil nampak mewarnai pasir pantainya putih dengan bebatuan besar dan karang di sisi lain pantai. Dari Pantai Nipah, nampak keindahan Pulau Bali dengan Gunung Agungnya yang penuh pesona.

Diantara semua pesona Pantai Nipah, yang paling diminati wisatawan adalah sajian ikan bakar di sekitar pantai ini. Di sisi kiri dan kanan jalan sekitar Pantai Nipah diramaikan dengan keberadaan warung-warung yang menjual olahan ikan bakar. Ikan-ikan segar hasil tangkapan nelayan dibakar dan disajikan dengan nasi putih hangat dan sambal. Sambal yang digunakan biasanya sambal terasi dan sambal plecing terung,atau plecing kangkung. Menu ini semakin terasa nikmat dengan ditemani kesegaran es kelapa muda. Semilir angin pantai semakin meningkatkan nafsu makan anda. Pantai Nipah benar-benar lokasi yang pas untuk bersantap siang denagn bertemankan pemandangan yang menakjubkan.