Selasa, 26 Januari 2016

BUDAYA BAYAN DI TENGAH ARUS MODERNESASI

                        
                                

                                      BUDAYA BAYAN DI TENGAH ARUS MODRNESASI





Suku Sasak Bayan merupakan salah satu kelompok masyarakat yang di tengah arus modernisasi tetap memegang teguh prinsip hidupnya. Bukan berarti menolak pembaruan, mereka hidup berdampingan dengan pembaruan. Desa Bayan terletak di Kabupaten Lombok Utara Nusa Tenggara Barat,Banyak hal tentang kearifan masyarakat Bayan yang masih dipertahankan keberadaannya sampai saat ini.Suku Bayan memegang teguh ajaran leluhur mereka yang disebut "metu telu", yaitu segala sesuatu keluar dari tiga hal ,yaitu fenomena alam terjadi dengan beranak,bertelur dan tumbuh,Sumber kehidupan di dunia berasal dari yang tiga tersebut, yang melahirkan (seperti manusia), yang bertelur (seperti unggas), dan yang tumbuh (seperti tanaman). "Selain itu sebagai manusia kita juga berasal dari tiga, yaitu Ibu, Bapak dan Tuhan,dan ada tiga fase kehidupan yang dilalui manusia yaitu lahir,mati,dan hidup di akhirat.


Masyarakat Bayan juga memaknai hidup. Setiap tahap kehidupan diupacarakan, dari saat bayi lahir, berusia 8 hari, lalu khitanan, menikah, hingga 1000 hari setelah wafat. Kelestarian alam juga dipelihara betul. Sebelum musim tanam, masyarakat akan bersama-sama membersihkan saluran air, lalu mengadakan upacara adat di mata air yang terdapat di hutan adat. Ketika akan menanam benih, ketika musim panen tiba semua diadakan upacara adat yang sarat makna. Penebangan pohon tidak boleh dilakukan. Jika kedapatan menebang pohon, akan didenda satu ekor kerbau.Banyak yang menyangka metu telu adalah suatu ajaran agama. Metu Telu ini bukan agama, melainkan adat. Adat dan agama tidak boleh bertentangan. Tata tertib itulah adat." Mereka mngusung adat tanpa meninggalkan ajaran agama Islam yang mereka anut. Perayaan adat yang besar yang sejalan dengan ajaran agama antara lain saat idul fitri dan saat Maulid Nabi Muhammad. Tetapi setiap perayaan tidak akan memberatkan warga, karena masyarakat saling membantu. Saling mengirimkan kebutuhan untuk memasak dan mengerjakan semuanya bersama-sama.Dulu Kerajaan Bayan dipimpin oleh seorang wanita dengan pusat pemerintahan di Bayan Agung, Bayan Beleq .Pedaleman Bayan merupakan satu komplek yang berisi beberapa bangunan berugak (bale-bale/gazebo) dan bangunan untuk menyimpan pusaka. Komplek ini dipagari dengan anyaman bambu, bangunan beratapkan alang-alang dan terbuat dari kayu yang dibangun tanpa paku. Dalam komplek pedaleman, terdapat empat buah beruga yang memiliki fungsi sendiri-sendiri. Salah satunya adalah Berugak Agung yang berfungsi sebangai tempat musyawarah atau disebut gundem, yang mencirikan sikap kebersamaan suku Bayan. Selain itu setiap rumah wajib memiliki berugak untuk menjamu tamu.


Mesjid Kuno bayan terletak di atas bukit tak jauh dari wilayah kampu pedaleman Bayan . Mesjid ini diperkirakan sudah ada sejak 300 tahun sebelum masehi. Mesjid ini pun sangat sederhana, berlantai tanah, beratap bambu dan alang-alang dan berdinding anyaman kayu. Mesjid hanya dibuka untuk upacara peringatan adat tertentu.Terlepas dari segala tradisi yang kental dan dipegang teguh, mereka tidak menolak pembaruan. Mereka hidup modern dan tidak menutup diri. Sebagian masyarakat masih bekerja mencocok tanam, tetapi ada pula yang menjadi pegawai negri sipil dan guru.Dari kearifan dan keserhanaan prinsip hidup masyarakat setempat. Manusia dan alam hidup berdampingan dengan damai. Masyarakat tidak menolak pembaruan, tanpa melupakan leluhur dan asal-usul kehidupan mereka.

Minggu, 24 Januari 2016

KAIN TENUN BAYAN LOMBOK UTARA

                                    

                                              KAIN TENUN BAYAN LOMBOK UTARA



Kain tenun juga dapat dijadikan tolak ukur keberagaman masyarakat yang mendiami pulau seribu masjid ini. Beragam corak kain tenun dibuat oleh komunitas penenun di Bayan misalnya, seperti songket, ikat dan londong abang (kain merah) menggambarkan adanya keaneka ragaman lapisan dan golongan masyarakat yang tinggal di Bayan, Kecamatan Bayan, Lombok Utara.
Di komunitas adat Bayan, kain tenun dengan corak tertentu wajib dimiliki oleh warga masyarakat adat, karena biasanya kain tenunan seperti Londong abang, digunakan ketika menghadiri acara ritual adat seperti maulidan, lebaran dan ngaji makam.
Membuat kain tenun cukuplah rumit dan sulit. Semua proses pembuatannya menggunakan peralatan kayu dan bambu yang dioperasikan secara manual atau dengan tangan. Waktu pengerjaannya bisa sampai dua minggu. Dalam proses ini walau mungkin sama dengan yang terdapat di tempat-tempat lain, namun yang membedakan antara tenunan Bayan dengan tenunan luar Bayan adalah setiap corak yang dibuat menggambarkan pemakainya berasal dari gubuq atau kampung tertentu di Kecamatan Bayan.


Tenunan Bayan dibuat bukan hanya memperhatikan coraknya saja, akan tetapi kekontrasan warna juga disesuaikan dengan warna kulit pemakainya. Untuk mendapatkan kain tenun Bayan sebaiknya memesan terlebih dahulu. Penenun biasanya mencocokkan corak maupun kekontrasan warnanya dengan keinginan si pemesan. Pemesan kain tenun dijamin puas akan hasil pesanan lainnya ini.
“ Selain corak, cara memakai pakaian adat komunitas Bayan juga bisa dikatakan unik, karena lengkap dengan kombinasi kain yang harus digunakan mulai dari Jong (penutup kepala), Lipaq (Kemben penutup dada), Poleng (kain yang dipaki paling bawah), dan yang terakhir Sampur yang berguna sebagai penutup lengan kiri, kesuluran pakain adat ini mulai dari Jong hingga yang terakhir Sapur digunkan khusus untuk kaum perempuan.



“ Sedangkan khusus untuk laki-laki yang pertama yakni Sapuk (pengikat kepala), kemudian yang kedua Dodot Rejasa (kain yang digunakan sebagai penutup lengan kiri) biasanya kainnya berwarna hitam dengan corak putih, serta yang terakhir adalah Londong Abang (yang digunakan sebagai kain paling bawah). Semua warna dan corak kain yang digunakan memilki makna sesuai dengan ritual adat yang sedang di ikuti atau berlangsung. Satu contoh ketika ritual adat yang di ikuti adalah ritual adat gawe Urip (gawe hidup) biasanya menggunakan corak yang berwarna-warni (poleng), sedangkan untuk ritual adat gawe Pati (gawe mati) biasanya menggunakan warna merah atau abang yang dikombinasikan dengan warna hitam dan biasanya disebut Londong Abang dan Rejasa.
Tapi yang paling penting disini adalah Jong Bayan yang digunakan sebagai penutup kepala, karena merupakan ciri khas cara berpakaian masyarakat komunitas adat Bayan sekaligus sebagai ikon yang secara langsung mewakili makna dari seluruh pakaian adat yang digunanakan ketika melakukan ritual adat.


Terkait soal prospek kedepan yang dapat diandalkan dari kain tenun komunitas adat Bayan khusunya untuk menjadi salah satu asset KLU memang memiliki potensi yang sangat baik untuk dikembangkan terlebih jika di kombinasikan dengan keberadaan obyek wisata yang ada di kawasan tersebut, seperti Air terjun, rumah tradisonal (adat) hingga taman wisata Gunung Rinjani

Jumat, 22 Januari 2016

TINJAUAN SINGKAT TENTANG "WETU TELU" DI LOMBOK UTARA

                TINJAUAN SINGKAT TENTANG "METU TELU" DI LOMBOK UTARA


Dalam arti bahasanya "Wetu Telu" berarti tiga sistem reproduksi, dengan asumsi kata Wetu berasal dari kata Metu yang berarti muncul atau datang dari, sedangkan Telu berarti tiga. Secara simbolis hal ini mengungkapkan bahwa semua makhluk hidup muncul (metu) melalui tiga macam sistem reproduksi.

Tiga macam sistem reproduksi itu adalah

a.Menganak (melahirkan), seperti manusia dan mamalia yang berdaun telinga.

b.Menteluk (bertelur), seperti burung, unggas dan lain-lain.

c.Berkembang biak dari benih atau buah (mentiuk)seperti biji-bijian, sayuran, buah- buahan, pepohonan dan tumbuh-tumbuhan lainnya.



Fokus pemahaman kita  tidak hanya terbatas pada tiga sistem reproduksi saja, melainkan juga menunjukkan pada kemahakuasaan Tuhan yang memungkinkan makhluk hidup untuk hidup dan berkembang biak melalui mekanisme tersebut. Kedua, persepsi yang mengatakan bahwa Wetu Telu melambangkan ketergantungan makhluk hidup satu sama lain. Menurut konsepsi ini, wilayah kosmologis itu terbagi menjadi jagad kecil( buana alit ) dan jagad besar ( buana agung ). Jagad Besar/Buana Agung disebut alam raya atau mayapada yang terdiri atas dunia, matahari, bulan, bintang dan planet lain, sedangkan manusia dan makhluk lainnya merupakan jagad kecil yang selaku makhluk sepenuhnya tergantung pada alam semesta. Ketiga, konsepsi yang menyatakan bahwa Wetu Telu sebagai sebuah sistem yang termanifestasi dalam kepercayaan bahwa semua makhluk melewati tiga tahap rangkaian siklus yaitu

a- dilahirkan (menganak),

b-hidup (urip)

c-mati (mate).

Kegiatan ritual sangat terfokus pada rangkaian siklus ini. Setiap tahap, yang selalu diiringi upacara, merepresentasikan transisi dan transformasi status seseorang menuju status selanjutnya juga mencerminkan kewajiban seseorang terhadap dunia roh.



Adapun di dalam keseimbangan dan keselarasan alam.ada tiga mekanisme yang yang sangat erat berhubungan antara satu dan yang lainnya,hubungan yang tidak boleh dipisahkan dalam kehidupan manusia yaitu :

a-Hubungan manusia dengan Tuhan.

b-Hubungan manusia dan manusia.

c-Hubungan manusia dan alam.

Hubungan manusia dan Tuhan adalah sebuah postulat yang tak bisa dipisahkan,manusia sebagai ciptaan Al Khaliq wajib menjalankan perintahnya sesuai dengan ajaran agama,hubungan manusia dan manusia dalam intraksi sosialnya harus menciptakan kerukunan,kedamaian dan keharmonisan,sedangkan hubungan manusia dan alam,membentuk manusia yang cinta kepada alam sebagai anugrah Tuhan yang harus kita jaga dan lestarikan.



Di tinjau dari proses kejadian manusia ada tiga hal pokok yang menjadikan sebab terjadinya manusia yaitu :

a-Adanya Ibu.

b-Adanya Bapak/Ayah

c.Adanya Tuhan

Dalam kejadian manusia ketiga hal tersebut merupakan hal pokok,yaitu nikahnya ibu dan bapak kita.akan menjadikan proses kejadian dalam kandungan ibu kita .dan dengan qudrat iradat Tuhan,maka terjadilah manusia.

Dengan melihat hal tersebut di atas ,maka Wetu Telu/Metu Telu adalah sebuah pemahaman tentang realita kehidupan yang Metu/Keluar dari tiga hal seperti yang disebut di atas.Semoga dengan ulasan singkat tentang Wetu Telu/Metu Telu dapat bermamfaat bagi kita.

SEKILAS TENTANG SEJARAH BAYAN LOMBOK UTARA

                                    

                          SEKILAS TENTANG SEJARAH BAYAN LOMBOK UTARA




Bayan merupakan kecamatan yang terletak di Kabupaten Lombok Utara yang masyarakatnya masih tetap memegang teguh tradisi ,adat ,budayanya sebagai warisan dari leluhurnya,terbukti hingga sampai saat ini komunitas yang tinggal di Bayan masih tetap memegang dan mempraktekkan kegiatan tradisi,adat-istiadat dan nilai-nilai budayanya tetap dijunjung tinggi oleh masyarakatnya, termasuk hukum adat yang mengatur dan mengikat secara keseluruhan komunitas adat Bayan. Hukum adat juga mengatur hubungan antar masyarakat dengan masyarakat, masyarakat dengan alam lingkungannya, dan masyarakat dengan Tuhannya.yang merupakan tiga pondasi pokok keseimbangan dan keselarasan jasmani dan rohani.


Ditinjau dari sistem kekuasaan,pengemban utama dalam pelaksanaan adat-istiadat yang ada di Komonitas Bayan Kabupaten Lombok Utara,yatu dapat dilihat dari pelaksanaan gundem (musywarah adat), seperti pengangkatan Mak Lokak Perumbak Daya yang memiliki tugas dan fungsi menjaga hutan adat, selalu diawali dengan komunikasi para pemangku adat, yang kemudian dilanjutkan dengan pertemuan para pejabat adat (tetua adat) lainnya yang berasal dari Desa Bayan, Desa Karang Bajo dan Desa Loloan, serta diiukti oleh para prusa atau tokoh adat lainnya.


Babad Bayan menyebutkan, bahwa Bayan pernah dipimpin oleh seorang raja  “Datu Bayan”. Datu Bayan ini bergelar Susuhunan Ratu Mas Bayan Agung, yang dalam silsilahnya datu tersebut bersaudara 18 orang dari hasil perkawinannya dengan beberapa permaisuri dan selir. Saudara Datu Bayan ini menyebar ke seluruh Pulau Lombok. Sejarah juga mencatat, dari hasil perkawinan pertama Datu Bayan, dia memperoleh dua orang putra yang bergelar Pangeran Mas Mutering Langit dan Pangeran Mas Metering Jadad. Dan kedua pangeran inilah yang melanjutkan kepemimpinan kejarajaan Bayan.


Datu Pangeran Mas Mutering Langit sebagai saudara tertua berkedudukan di Bayan Timur dengan tugas menjalankan adat gama, yaitu sebuah lembaga adat yang mengatur hubungan vertikal dengan sang pencipta Allah SWT. Sementara Datu Pangeran Mas Mutering Jagad berkedudukan di Bayan Barat, yang bertugas menjalankan adat Luir Gama yang berhubungan dengan sosial kemasyarakatan, lingkungan dan adat-istiadat lainnya.
Kedua Datu Bayan tersebut dalam menjalnkan tugasnya dibantu oleh keluarga kerajaan, antara lain: Titi Mas Rempung yang tinggal di Desa Loloan, Titi Mas Puncan Surya yang tinggal di Desa Karang Bajo, dan Titi Mas Pakel yang tinggal di Karang Salah. Sedangkan dalam menjalankan tugas dibidang keagamaan dibantu oleh Titi Mas Pengulu, Mudim, Ketip dan Lebe Antassalam.


Kata “Bayan” berasal dari bahasa Arab yang berarti penerangan atau penjelasan. Nama ini dikenal setelah Islam masuk ke Bayan sekitar abad ke 16, yang dibawa oleh para ulama dan pedagang yang singgah di Pelabuhan Carik. Labuhan Carik sendiri kala itu adalah pelabuhan yang cukup strategis, karena tempat persinggahan para pedagang yang datang dari pulau Jawa, Sulawesi dan pulau Sumbawa. Dan pelabuhan itu sendiri sebagai bagian wilayah yang dikelola Kerjaan Bayan. Dan untuk menjaga Pelabuhan Carik diangkatlah Mak Lokak Sahbandar yang diberi tugas khusus mengelola Pelabuhan Carik.


Kerajaan Bayan terbentang sepanjang pantai utara Pulau Lombok dengan batas kerajaan Bayan saat itu adalah sebelah timur: Tal Baluk (berbatasan dengan Kecamatan Pringgabaya, Lombok Timur-sekarang), sebelah barat berbatasan dengan Menanga Reduh yang berada di Desa Melaka Kecamatan Pemenang, sementara sebelah utara: laut lepas dan sebelah selatan Gunung Rinjani.

MENIKMATI IKAN BAKAR DI PANTAI NIPAH LOMBOK UTARA


                                  MENIKMATI IKAN BAKAR DI PANTAI NIPAH LOMBOK UTARA                                    


Pantai Nipah tak terlalu jauh dari Pantai Senggigi, hanya sekitar 20 menit perjalanan. Pantai yang berada di Desa Malaka, Kecamatan Pemenang,abupaten Lombok Utara,Nusa Tenggara Barat, ini masih satu garis pantai dengan Pantai Malimbu dan Pantai Pandanan. Jarak masing-masing pantai ini juga cukup dekat, hanya sekitar 5-10 menit perjalanan. Meski belum terlalu booming, namun akses menuju Pantai Nipah sudah cukup baik, walaupun dengan kontur jalan yang berkelok dan bertebing curam. Jalanan aspal yang mulus serta angkutan umum banyak dijumpai untuk menuju ke sini. Di sepanjang perjalanan, pemandangan bukit yang hijau menjadi teman anda untuk menuju Pantai Nipah.

Pantai Nipah juga cukup mudah ditemukan. Selain lokainya yang berada di pinggir jalan utama, terdapat papan nama bertuliskan “Pantai Nipah” di sisi kiri jalan. Dengan mengikuti arah papan tersebut, anda bisa sampai ke Pantai Nipah yang memiliki karakteristik hampir sama dengan Pantai Malimbu. Deretan perahu nelayan akan menyapa anda begitu anda tiba di pantai yang oleh masyarakat sekitar disebut dengan nama Teluk Nipah ini. Deretan bukit yang bernama sama nampak mengelilingi Pantai Nipah semakin mempercantik keindahan pantai ini. Dari atas bukit ini, anda bisa menikmati pemandangan Pantai Nipah secara keseluruhan sekaligus menjadi salah satu spot terbaik untuk mendapatkan gambar matahari terbenam. Jadi anda yang menyukai landscape photograph, wajib datang ke Pantai Nipah.

Pantai Nipah memiliki ombak yang tak terlalu besar sehingga cukup aman bagi anda untuk berenang di sana. Air pantai ini juga cukup jernih bagaikan cermin, sehingga anda bisa memandangi dasarnya dengan mata telanjang. Kejernihan airnya berpadu dengan gradiasi warna airnya yang berwarna biru dan hijau keputihan. Di sore hari, warna jingga matahari akan terpantul di atasnya yang semakin menambah warna-warni Pantai Nipah. Karang-karang kecil nampak mewarnai pasir pantainya putih dengan bebatuan besar dan karang di sisi lain pantai. Dari Pantai Nipah, nampak keindahan Pulau Bali dengan Gunung Agungnya yang penuh pesona.

Diantara semua pesona Pantai Nipah, yang paling diminati wisatawan adalah sajian ikan bakar di sekitar pantai ini. Di sisi kiri dan kanan jalan sekitar Pantai Nipah diramaikan dengan keberadaan warung-warung yang menjual olahan ikan bakar. Ikan-ikan segar hasil tangkapan nelayan dibakar dan disajikan dengan nasi putih hangat dan sambal. Sambal yang digunakan biasanya sambal terasi dan sambal plecing terung,atau plecing kangkung. Menu ini semakin terasa nikmat dengan ditemani kesegaran es kelapa muda. Semilir angin pantai semakin meningkatkan nafsu makan anda. Pantai Nipah benar-benar lokasi yang pas untuk bersantap siang denagn bertemankan pemandangan yang menakjubkan.

KESENIAN CUPAK GERANTANG BAYAN LOMBOK UTARA

                                         Kesenian Cupak Gerantang-Bayan Lombok Utara



Bayan Lombok Utara selain dikenal dengan tradisi leluhurnya yang kental.dan alamnya yang indah.masyarakat Bayan juga dikenal dengan jiwa seninya,hal ini terbukti dari berbagai macam kesenian peninggalan leluhur yang masih terjaga hingga saat ini seperti Tari Suling Dewa,Tari Gegerok Tandak,Tari Semetian,Gambelan Gendang Beleq dll.Salah satu kesenian yang masih ada sampai saat ini yaitu Kesenian Cupak Gurantang .
Dari Lontar Cupak Gerantang yang ditulis dalam bentuk sekarang dengan pengantar bahasa Sasak Lombok ini membuka tuturannya dengan menceritakan penculikan terhadap putri Daha oleh raksasa Limandaru.Limandaru yang berarti raksasa bermuka gajah dengan sorotan mata bagai api adalah raksasa yang sangat sakti dan sudah lama mengidam-idamkan putri Daha untuk dijadikan anaknya. Hasrat Si Limandaru pun terwujud. Putri Daha yang berhasil diculiknya disembunyikan di dalam goa.
Prajurit Daha kemudian dikerahkan untuk merebut kembali putri yang diculik itu. Prajurit kerajaan di bawah pimpinan Raden Panji (kekasih sang putri) juga ikut dikerahkan, akan tetapi semuanya menemui kegagalan. Sang Putri tetap ditangan Limandaru. Bahkan Raden Panji sendiri nyaris menemui ajalnya. Rasa malu dan kecewa karena kegagalan ini membuat Raden Panji memutuskan untuk pergi berkelana mencari kesaktian.


Tersebutlah seorang abdi kerajaan Daha yang lolos dari cengkraman maut bernama si Bosok. Ia bersedia mengikuti pengembaraan Raden Panji, asalkan diakui sebagai saudaranya. Kedua insan itu pun pergi bertafa ke gua Galagala. Berkat kekuasaan Tuhan, keduanya menjelma kembali menjadi anak kecil. Si Bosok yang dimandikan di Pekuburan Keramat diberi nama Raden Cupak. Rupa wajah Raden Cupak sangat serem dengan kepala botak dan perut gendut. Sedangkan Raden Panji yang disucikan di sebuah mata air diberi nama Raden Gurantang yang wujud fisiknya sangat baik, tampan, serta dengan perangai halus dan budi pekerti luhur.
Selanjutnya diceritakan Cupak dan Gurantang melakukan pengembaraan. Pada suatu saat mereka bertemu dengan Amaq Bangkol dan Inaq Bangkol. Mereka mengangkat Raden Cupoak dan Raden Gurantang sebagai anak.


Pada lanjutan kisah, Selama menjadi anak angkat Inaq Bangkol, terlihat perbedaan perangai kedua tokoh ini. Raden Cupak yang bertampang buruk mewakili sifat-sifat yang buruk. Hatinya busuk, tidak jujur, pemalas, serakah, dan perbuatan culas lainnya. Sedangkan Gurantang dengan tampang yang bagus mewakili sifat-sifat yang bagus pula seperti jujur, tulus ikhlas, rela berkorban, rajin, rendah hati,dan sejenisnya. Meskipun ia memiliki kesaktian yang tinggi, tetapi tidak sombong.
Cerita dilanjutkan dengan pengembaran Cupak dan Gurantang. Setelah Raden Cupak bertingkah laku tidak baik, terhadap Inaq Bangkol dan Amaq Bangkol, Raden Gurantang merasa malu. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan Mengembara tanpa tujuan keluar hutan masuk hutan.


Pada bagian tengah cerita mengisahkan tentang adanya sayembara dalam rangka merebut kembali putrid Daha dari tangan raksasa Llimandaru. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh Raden Gurantang alias Raden Panji. Ia memang sudah lama bertekad merebut kembali kekasihnya dari tangan Limandaru. Tetapi rupanya kehadiran Cupak sebagai saudara Gurantang bukan membantu, bahkan merupakan duri dalam daging. Ketika usaha Gurantang menyelamatkan Tuan Putri hamper berhasil, Cupak yang ternyata menaruh hati kepada Tuan Putri tak segan segan mencelakakan Gurantang dengan jalan menjatuhkannya kedalam dasar Gua. Daalam situasi seperti ini, peran Amaq dan Inaq Bangkol kembali dihadirkan untuk menyelamatkan sang Panji (Raden Gurantang). Pada akhir cerita dituturkan bahwa kebenaran dan kejujuranlah yang akhirnya memperoleh kemenangan walau terlebih dahulu mesti diuji dengan kekalahan, kesengsaraan, dan penderitaan. Di ujung cerita dikisahkan Cupak mengadu kepada Raja bahwa dialah yang membunuh raksasa itu. Untuk menguji kebenaran ceritanya, Cupak disuruh beradu perise melawan Gurantang. Akhirnya Cupak dapat dikalahkan dan Tuan Putri dikawinkan dengan Gurantang.


SULING DEWA BAYAN LOMBOK UTARA

                                                 SULING DEWA BAYAN LOMBOK UTARA


Suling Dewa, kesenian tradisional asal Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini hanya digelar ketika musim kemarau melanda. Tradisi ini dihelat untuk memohon turunya hujan. Mengingat musim kemarau yang menghantui warga Lombok Utara secara khusus dan NTB secara umum, sepertinya ritual yang satu ini perlu diadakan dalam Pekan Apresiasi Budaya
Selama ini masyarakat Lombok memahami dan mengenal Bayan sebagai salah satu pusat peradaban tertua di Lombok. Banyak budaya dan seni tradisi hasil lokal genius leluhur yang masih dilakoni di ujung timur Kabupaten Lombok Utara. Salah satu kesenian tradisional Suling Dewa.
Sejarah panjang mengiringi kelahiran kesenian yang satu ini. Tiupan seruling dewa ini diyakini masyarakat adat Bayan mampu menurunkan air langit untuk memberikan babak kehidupan yang baru di atas bumi.
Kesenian ini lahir ketika wilayah Bayan dilanda musim kemarau yang berkepanjangan. Karena tak ada satu pun tanaman yang bisa tumbuh dan berkembang, otomatis mempengaruhi siklus kehidupan di Gumi Bayan. Bahaya kelaparan pun mengancam dimana-mana.
Suara-suara bijak dari atas langit memberikan petunjuk demi kelangsungan hidup umat manusia. Salah seorang pemangku (tokoh yang dituakan), diberikan petunjuk melalui suara, bukan petunjuk dari mimpi. Sang pemangku pun berkomunikasi tanpa bisa mengetahui siapa si pemilik suara.
Dalam komunikasi yang terjalin antara pemangku dengan suara tersebut, sang pemangku kebingungan.Ia tidak tahu harus berbuat apa. Dalam kebingungannya, pemangku adat tadi diarahkan kembali untuk melakukan sebuah prosesi adat yang dinamakan mendewa. Maksudnya, untuk mengakhiri musim kemarau panjang ini.
Hanya saja persoalan tidak bisa selesai sampai disana saja. Sang pemangku kebingungan mencari bahan-bahan untuk melakukan prosesi adat Mendewa. Karena keperluan ritual mendewa harus dilengkapi dengan sirih, pinang, lekoq buak (penginang), sementara kala itu musim kemarau tengah melanda.Melokak, pemain suling dewa didampingi dua wanita pendamping setianya.


Selanjutnya, wangsit itu kemudian mengarahkan agar pemangku bergegas menuju ke suatu tempat di tengah hutan Gunung Rinjani. Disana sudah tersedia keperluan yang dibutuhkan untuk melakukan prosesi ritual mendewa tersebut. ”Dalam dialog tersebut, ditegaskan segala prosesi tersebut harus dilaksanakan di Bale Beleq pada malam senin dan malam jumat.
Selain itu, pemangku juga diperintahkan membuat suling dari bambu. Sebuah alat musik tiup yang merupakan satu-satunya alat yang dipakai untuk menghibur diri. Prosesi ini diawali dengan ditiupkannya seruling oleh Jero Gamel atau peniup suling. Ia lantas memainkan komposisi atau Gending Bao Daya. Bila diartikan, dalam bahasa Indonesia bao daya ini bermakna mendung di selatan.
Di malam pertama prosesi ini dilangsungkan yaitu pada malam senin, hujan tak juga turun. Tapi ajaibnya, Gumi Bayan yang selama berbulan-bulan mengalami kekeringan, tib-tiba melihat awan gelap yang datang berarak-arak menyelimuti langit Bayan.
Pada malam jumat, dimana prosesi kedua dari ritus ini dilangsungkan, hujan hampir-hampir saja mengguyur Gumi Bayan. Hanya saja, hujan yang diharapkan tak kunjung jua turun membasahi tanah.
Suara bijaksana tersebut kembali datang menyapa Pemangku, agar tetap melaksanakan ritual tersebut.
Akhirnya rintik hujan yang dinanti selama ini, turun dari langit dengan derasnya pada pelaksanaan ketiga, atau tepatnya di malam senin. Tetesan air tercurah ke bumi terjadi sesaat setelah alunan Gending Bao Daya dimainkan Jero Gamel dengan tiupan serulingnya. Kehidupan pun kembali pulih. Semua orang tersenyum menatap datangnya hujan yang membawa pengharapan baru diatas muka bumi.
Atas keajaiban tersebut, suling Bao Daya yang selama ini dikenal oleh masyarakat Bayan pun berganti nama menjadi Suling Dewa. Nama ini diberikan atau ditasbihkan masyarakat karena keajaiban yang dihasilkan melalui tiupannya.
Dalam memainkan gending Bao Daya ini, ada dua unsur yang harus ada. Yakni, Jero Gamel atau peniup seruling dan Jero Gending atau sosok Sinden dalam kebudayaan Jawa. Selain komposisi Bao Daya, masyarakat Bayan juga mempunyai beberapa komposisi lainnya. Seperti, komposisi Putri Cina.
Menariknya lagi, alat musik tiup ini memiliki sebuah pemahaman filosofis yang begitu mendasar dan mulia. Alat musik seruling ini menggambarkan wujud manusia, dimana bila seruling ini tidak diberikan hembusan nafas, maka tidak akan menghasilkan nada-nada indah. Begitu juga dengan manusia, bila raga tanpa atma atau roh, tentu tidak akan ada kehidupan.
Didalam alat musik seruling, di ujung atas terdapat rongga yang akan ditiup yang dinamakan Slepers. Rongga inilah yang berfungsi sebagai tempat untuk menghembuskan nafas penghasil nada. Di badan seruling tersebut, terdapat enam lubang yang disebut pengatep untuk memainkan tangga nada.
Pengatep dengan enam lubang ini sebagai simbol indra yang dimiliki manusia. Suling dewa yang tidak diketahui usianya ini, hingga kini masih dikeramatkan sebagian masyarakat adat Lombok Utara. Tidak boleh diletakkan sembarangan, dan juga tidak boleh dimainkan secara semabarangan pula. Dimainkan pada saat-sata tertentu, seperti pada saat prosesi adat Gawe Alif, musim kemarau, atau selametan desa.


Untuk memainkan Suling Dewa, harus melalui prosesi adat terlebih dahulu. Jenis perlengkapannya pun sudah merupakan ketentuan mutlak. Yakni berupa kepeng (uang) bolong sebanyak 44 buah, lekoq buaq, bantal, kemenyan, nyiur gading, dan bunga harus disiapkan terlebih dahulu.
tidak itu saja, sebagian masyarakat Bayan juga meyakini seruling ini sebagai media pengobatan. Bila dipakai sebagai media pengobatan, peniup seruling pun akan mengalami kedewan atau kesurupan. Bila sudah mengalami Kedewan ini, pihak yang sakit pun dipersilahkan untuk menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya. Selanjutnya, pasien akan diberikan jalan keluar penyelesaian masalah 
yang dihadapinya.